Masa lalu
mungkin sudah menjadi suatu hal yang sering kita bicarakan dan tidak mudah pula
bagi sebagian orang untuk melupakannya, namun kita harus menyadari bahwa masa
lalu bukanlah suatu hal yang nyata. Ada pepatah bijak yang menyatakan kemarin
telah berakhir tadi malam, entah dengan kondisi apapun.
Masa lalu adalah
suatu hal mati yang tidak harus kita bawa-bawa dan ungkit-ungkit kembali, walau
masih banyak orang yang mempermasalahkan masa lalunya. Dengan mempermasalahkan
masa lalu, kita akan sulit bangkit dan sulit menuju kesuksesan karena akan selamanya
terbelenggu dalam ilusi diri.
Masa lalu tidak
harus kita lupakan begitu saja, kita harus bijak dalam menyikapinya, terutama
masa yang kelam. Ada seorang tokoh yang mengingatkan bahwa memahami masa lalu
itu penting agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama atau serupa. Jadikan
masa lalu sebagai tempat belajar kita dan bukan sebagai tempat tinggal. Dari
masa lalu kita bisa bercermin dan memperbaiki diri. Kita bisa melupakan masa
lalu, memperbaiki dan berbuat sebaik-baiknya saat ini untuk menyambut masa
depan yang lebih baik. Sekelam apapun masa lalu kita, masa depan kita seperti
kertas putih yang belum ternoda, diri sendirilah yang akan membuat coretan di kertas
itu sesuai apa yang kita inginkan. Berilah coretan indah yang akan menghasilkan
karya yang indah pula.
Masa lalu dan
masa depan seseorang tidaklah sama, contoh pada relasi saya Pak Memet, dia
dulunya seorang mahasiswa yang bisa digolongkan ke dalam mahasiswa yang kurang
berkecukupan dalam biaya. Kuliah sambil berjualan donat, baju, dan lain
sebagainya, tetapi dengan keinginannya yang kuat untuk bisa berhasil dan
meninggalkan masa lalunya ini, ia ikuti berbagai usaha. Awal usaha-usahanya itu
tidak begitu berpengaruh pada kehidupannya tetapi dia tetap berusaha terus dan
membuktikan bahwa dia tidak mau dikalahkan dengan kegagalan masa lalunya,
akhirnya penghasilannya kini mencapai 50 juta per bulan.
Oleh karena itu,
kita harus bisa memahami, memaafkan dan melupakan masa lalu sebagai proses
menjadi lebih baik. Ketika memaafkan orang lain atau diri sendiri sulit, kita
dapat dengan cara lain yang sedikitnya bisa mengurangi beban pikiran kita, kita
bisa mengungkapkannya melalui tulisan, menceritakan pada teman kita yang
dianggap paling kita percaya dan tidak kalah pentingny berdoa pada Tuhan, pasti
Tuhan akan menolong makhlukNya. Hal lain yang bisa kita lakukan adalah menemui
psikolog yang mampu memberi bimbingan hingga sembuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar